Miris: Tiga Pelajar Bacok Warga Semarang Timur dengan Celurit dengan Sadis, Ada apa dengan remaja kita dewasa ini ? (Kajian dari sudut pandang Psikoanalisis)
Oleh: Agus Ekoyono Mahasiswa Magister Psikologi UMS Surakarta.
Meski masih berstatus pelajar, namun dua remaja ini tak segan berbuat sadis. Moh Nurul Komar (19) dan AP (17) bersama seorang rekannya yang masih buron secara sadis membacok Agus Budi Santoso hingga korban mengembuskan nafas terakhir setelah dirawat beberapa hari di RSUP dr Kariadi Semarang.
Aksi brutal para pelajar ini terjadi saat lepas perayaan malam tahun baru 1 Januari 2019 dini hari lalu. Komar, AP dan rekannya yang masih buron, Ferry, berkeliling sembari membawa senjata tajam jenis celurit.Sesampai di Jalan Karangkojo, Semarang Timur, beberapa warga yang berkumpul meneriaki ketiganya."Ada yang teriaki, kami berhenti. Yang turun pertama Komar dan Ferry," ujar AP di Polsek Semarang Timur, Polrestabes Semarang, Senin (14/1/2019).Tanpa basa basi, berbekal celurit di tangan masing masing, ketiganya menyabetkan senjata tajam ke arah korban.Saking sadisnya, sabetan itu dilakukan berulang ulang di sekujur tubuh korban.
Kejadian sejenis masih terjadi lagi baru-baru ini, juga di kota Semarang. Video detik-detik pembacokan di Kaligawe, Pelaku Masih Bocil Semua. Kejadian di Kota Semarang saat pagi buta itu menjadi viral. Aksi itu terekam CCTV dan viral usai diunggah oleh akun Instagram @kejadiansmg pada Minggu dilaporkan dalam Tribunjateng.com (3 /4/2022 ).Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com (2022) dengan judul Viral Detik-detik Pembacokan di Kaligawe Semarang, Pelaku Masih Bocil Semua.
Dalam video tersebut terlihat situasi sebuah gang kampung yang sangat sepi. Kemudian ada dua remaja yang mengendarai motor putih melaju memasuki gang.Tiba-tiba dari arah samping ada tiga remaja yang berlari membawa senjata tajam.Remaja berkaos hitam langsung melayangkan senjatanya ke arah pemotor itu dan mengenai pemuda yang membonceng.Sedangkan remaja lainnya mencoba untuk mengejar korban.Beruntung dua pemuda itu berhasil lolos.Usai melakukan aksinya, para remaja itu terlihat senang dengan berjoget dan melompat. Dari keterangan pengunggah insiden ini terjadi di Karang Kimpul, Kaligawe.
Melihat kejadian ini kita merasa miris dan bertanya-tanya: ada apa sebenarnya remaja kita dewasa ini ? Mengapa suka bertindak brutal meskipun masih di usia belia? Dalam kajian psikologi diagnostik kami mencoba untuk mengurai secara singkat kasus tersebut.
1. Perilaku agresi
Agresivitas merupakan segala bentuk perilaku yang ditujukan untuk melukai/ menyakiti orang lain baik secara fisik maupun psikologis (Brehm & Kassin,1993; Sears, Peplau, Fredman,dan Taylor,1988; Baron & Byrne,1997. Breakwell (1988) dan Brigham (1991) menambahkan bahwa perilaku agresi pada prinsipnya bertentangan dengan kehendak korban. Sears, Peplau, Fredman, dan Taylor ( dalam Anton S,2001) mendefinisikan agresi sebagai tindakan yang melukai orang lain dan hal lain yang dimaksudkan untuk itu. Tindakan agresif bisa antisosial , prososial atau sekedar disetujui, tergantung apakah tindakan itu bertentangan atau sejalan dengan norma sosial.
Brehm & Kassin (1993) mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang secara fisik maupun psikologis. Buss (dalam Pearlman & Cozby,1983) membagi perilaku agresi menjadi tiga yaitu: (a). agresi fisik/verbal (b).agresi aktif/pasif (c).agresi langsung/tak langsung. Berkowitz (1994) mendefinisikan perilaku agresi sebagai bentuk perilaku yang dapat merugikan orang lain, baik secara fisik, psikologis maupun sosial. Dilihat dari segi tujuannya agresi dibedakan menjadi dua yaitu: agresi intrumental dan agresi emosional. Agresi instrumental terjadi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dan agresi emosional terjadi karena seseorang merasa terseinggung dan berusaha untuk menyakiti orang lain. (Anton S, 2001).
Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa agresivitas adalah perilaku yang memiliki tujuan untuk melukai / menyakiti pihak lain baik sudah dilaksanakan maupun sedang dipikirkan dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, verbal secara langsung maupun tidak langsung dimana korban tidak menghendaki perlakuan tersebut.
2. Beberapa teori tentang penyebab terjadinya perilaku agresi
Terjadinya perilaku agresi dapat dijelaskan melalui beberapa teori, diantaranya: (a). teori hipotesis frustasi-agresi ( Dollard dalam Rogers,1993; Baron & Byrne,1997; Brachm & Kassin,1993; Sears, et.al,1994). (b).teori naluri agresi (William James dan William Mc.Dougall, disamping Sigmund Freud. Konsep naluri ini kemudian diperbaharui oleh Lorenz dan Tinbergen ( Koeswara,1988). (c). teori regulasi fisiologis (Cannon, Britton, Bard dan Papez dalam Koeswara.,1988), (d). Teori belajar sosial (Bandura dalam Koeswara,1988; Baron & Byrne,1977); (e).teori agresi sebagai proses kognitif (Huesman,1994; Dodge & Crick,1990), (f.). teori katarsis (Jung dalam Hall & Lindzey, 1978 juga Sears dkk.,1994).
3. Karakteristik Masa Remaja
Ciri utama remaja meliputi pertumbuhan fisik yang pesat, kesadaran diri yang tinggi, dan selalu tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru.(Santrock,003). Masa remaja bukanlah masa berakhirnya terbentuk kepribadian akan tetapi merupakan salah satu tahap utama dalam pembentukan kepribadian seseorang. Remaja banyak meluangkan waktunya bersama teman-teman sebaya. Disamping itu, remaja mulai banyak menerima informasi dari media massa yang sudah mulai dikenal dan dekat dengan mereka. Oleh karenanya, remaja menjadi individu yang terbuka terhadap hal-hal baru
Selain itu, pada masa remaja ditandai adanya :a). Kegelisahan: Remaja mempunyai banyak idealisme angan-angan atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan. Dalam kenyataanya remaja belum mampu untuk mewujudkannya, akibatnya remaja seringkali diliputi perasaan gelisah. b). Pertentangan: yaitu pertentangan pendapat remaja dengan lingkungan khususnya orang tua mengakibatkan kebingungan dalam diri remaja itu sendiri maupun pada orang lain. c). Mengkhayal: yaitu keinginan untuk menjelajah dan berpetualang tidak semuanya tersalurkan.Biasanya terhambat dari segi waktu maupun biaya (finansial) oleh karena itu mereka lalu mengkhayal mencari kepuasan. Khayalan ini tidak selamanya bersifat negatif, justru kadang menjadi sesuatu yang konstruktif. d). Menyukai aktivitas berkelompok:berbagai macam keinginan remaja dapat tersalurkan setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. e). Keinginan untuk mencoba segalanya f) Masa remaja sebagai periode peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Masa peralihan ini juga disebut sebagai masa pancaroba. g). Masa remaja sebagai periode perubahan fisik dan psikhis yang sangat pesat h). Masa remaja sebagai usia bermasalah. Masalah pada masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi (Hurlock, 1999).
4. Kajian psikoanalisis Freud tentang perilaku agresi
Berdasarkan pandangan psikoanalisis, teori ini menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan akibat dari adnya insting pada manusia: instinctual drives. Sigmund Freud berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting pokok yaitu insting hidup (eros) dan insting kematian (thanatos). Sigmund Freud,Bapak Psikoanalisis (1930) berasumsi bahwa manusia memiliki naluri untuk bertindak agresif. Menurut teori insting kematian (thanatos) yang digagasnya, agresi dapat mengarahkan pada diri sendiri atau maupun pada lain. Meskipun Freud mengakui bahwa agresi dapat dikontrol, Freud berpendapat bahwa agresi tidak bisa dieliminasi/dihilangkan, karena agresi merupakan sifat alamiah manusia.
Insting- insting kematian (thantos), atau insting yang merusak (destruktif) menggejala secara lebih sembunyi-sembunyi dibandingkan insting-insting hidup (eros). Oleh karenanya tidak begitu dikenal, kecuali bahwa secara tak terelakkan muncul dalam ekspresi riil yaitu perilaku destruktif: menyakiti, membunuh atau bunuh diri dll. Dorongan agresif adalah salah satu insting-insting mati yang derivatif. Keagresifan adalah perusakan diri yang diarahkan ke objek-objek tertentu.
Sumber dari agresi seseorang sendiri dapat berupa serangan dari orang lain, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal karena suatu alasan. Juga ketika seseorang frustasi karena dihambat atau dicegahnya upaya seseorang untuk mendapatkan suatu tujuan tertentu.Bisa juga terjadi karena adanya suatu kompetisi/persaingan antar individu, kelompok atau organisasi bahkan suatu negara.
Selain teori psikoanalisis, Albert Bandura,pencetus belajar sosial (social learning theory) menjelaskan perilaku agresif pada anak. Teori belajar sosial menyatakan bahwa perilaku agresi merupakan hasil pembelajaran seseorang sejak masa kanak-kanaknya yang kemudian menjadi pola perilaku (learned behavior). Perilaku agresi ini dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan, maka semakin besar kemungkinan untuk berkembang.
Observasi terhadap model memang menjadi bagian yang sangat penting dalam teori belajar sosial. Menurut Bandura (Bandura, 1977.) Modeling memiliki pengaruh besar dalam pembentukan perilaku seseorang, karena sebagain besar perilaku dipelajari melalui pengamatan atau observasi terhadap model. Bagaimana proses observasi terhadap modeling sehingga mampu berpengaruh terhadap perliaku yang mengobservasinya. Ada empat proses dalam obeservasi untuk mempelajari model menurut teori belajar sosial yaitu “proses atensi attentional process), proses retensi (retentional process), proses reproduksi penggerak (motor reproduction process), dan proses motivasi (motivational process)” (Bandura, 1977).
Berdasarkan deskripsi mengenai perilaku agresi tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku agresi adalah suatu tindakan kasar dan merusak yang dilakukan seseorang terhadap orang ataupun benda. Tindakan tersebut muncul karena ingin mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, gagal dalam mencapai tujuan dan tidak menyukai seseorang. Tindakan agresi diwujudkan dalam tiga bentuk yaitu agresi fisk, psikhis dan agresi verbal.
5. Upaya mengurangi kecenderungan sikap agresi
Dapatkah perilaku agresi dihilangkan? Menurut Freud perilaku agresi tidak bisa dihilangkan sebab selama insting thanatos masih ada dalam diri manusia, selama itu pula kecenderungan agresi akan tetap ada. Namun demikian menurut Freud, kecenderungan perilaku agresi dapt dikendalikan.
Menurut penulis ada beberapa cara untuk mengendalikan kecenderungan perilaku agresi di kalangan remaja, yaitu:
a. Tentu harus diawali dengan pola pembiasaan hidup yang baik dalam keluarga: seperti penanaman nilai keagamaan, sikap toleransi, mengahargai dan mencintai kehidupan (pro life), sopan santun dll. Kesemua nilai positip ini harus dibiasakan dalam keluarga dan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Kurangi kebiasaan memutar film-film yang mengeksploitir kekerasan, termasuk dalam game interaktif yang banyak digandrungi anak-anak dan remaja. Dalam hal ini orang tua harus ikut memberikan pengawasan terhadap apa yang diakses oleh anak-anak di hp mereka.
c. Pihak sekolah harus membudayakan pola hidup yang baik, terutama penanaman nilai budi pekerti bukan sekedar hafalan tetapi dipraktekkan di sekolah baik terhadap guru, petugas sekolah maupun antar siswa. Harus ada aturan dan tindakn tegas terhadap siswa pelaku tawuran baik di sekolah maupun di luar sekolah. Peran Guru Bimbingan dan Konseling sangat diharapkan untuk memonitor sepak terjang siswa terutama yang mengarah ke tindakan agresivitas.
d. Perlu dikontol oleh orang tua, dengan siapa anak-anak mereka berteman/bergaul, jangan sampai anak-anak teribat dalam “pergaulan genk” anak-anak remaja yang cenderung brutal. Monitoring secara kontinyu harus terus dilakukan. Sesibuk apapun kerjaan orang tua jangan sampai melupakan anak.
e. Lingkungan masyarakat harus juga ikut peduli terhadap perilaku anak-anak remaja kita, jangan diam manakala terjadi perilaku agresi yang d ialkukan remaja kita apalagi sampai terjadi agresi brutal. Jika tidak mampu menangani segera panggil pertolongan pihak kepolisian, jangan sampai dibiarkan berlarut yang berujung petaka.
Demikian, semoga ulasan singkat ini dapat menambah wawasan kita mengenai perilaku agresi di kalangan remaja dewasa ini. Terima kasih.
Madiun, 06/04/2022
AGUS EKOYONO
Bahan Pengayaan
Anton S,(2001).Pengaruh Dialog Berkelanjutan ,Orientasi Nilai, dan Prasangka Sosial Terhadap Perilaku Agresi Antar Agama dan Kepercayaan di Indonesia .Makalah Seminar Psikologi, Yogyakarta:2001
Berkowitz,L.,1994.Aggression: A Social Psychological Analysis, New York: McGraw-Hill Book Co.
Brehm,S.S. & Kassin,S.M.,1993 .Social Psychology,Boston: Houghton Mifflin Company
Hall,CalvinS.,Lindzey,Gardner.(1993). Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Hurlock, Elizabeth.B, 1993.Psikologi Perkembangan: Suatu) pendekatan sepanjang rentang kehidupan(edisi kelima), Jakarta: Erlangga
Kearns, Tori and Lee, Deborah, General Psychology: An Introduction (2015). Psychology, Sociology, Anthropology, and Social Work Open Textbooks. Book 1.
Kompasiana.com dengan judul "Agresi Dalam Sigmund Freud?", https://www.kompasiana.com/ putridwi/ agresi-dalam-sigmund-freud
Robert A.Baron, D. B. (2003). Psikologi Sosial. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
TribunJateng.com (2022).Viral Detik-detik Pembacokan di Kaligawe Semarang, Pelaku Masih Bocil Semua.

Posting Komentar untuk " Miris: Tiga Pelajar Bacok Warga Semarang Timur dengan Celurit dengan Sadis, Ada apa dengan remaja kita dewasa ini ? (Kajian dari sudut pandang Psikoanalisis)"
Silahkan berikan komentar dan masukan yang membangun agar blog ini menjadi lebih baik.