Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hari Pendidikan Nasional Momentum Kebangkitan Indonesia



Pada tanggal 2 Mei 2020 ini atau bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional nampaknya harus dirayakan sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Gegap gembita serta upacara bendera yang biasanya dilakukan pada perayan Hari Pendidikan Nasional tak dirasa karena wabah covid 19 yang masih belum mereda ini. Semoga lekas membaik...aamiin.

Berbicara soal pendidikan, Indonesia memiliki sejarah pendidikan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sejak era presidan Soekarno, Indonesia sudah dikenal memilki tenaga pengajar yang berkualifikasi lulusan perguruan tinggi bila dibandingkan dengan negara tetangga kala itu. Tak pelak membuat negara tetangga seperti Malaysia tetarik untuk mendatangkan tenaga pengajar dari Indonesia. Dilansir catatan  kompas (18/11/1968) dikirim secara bertahan tenaga pengajar ke malaysia dengan jumlah guru 60 orang dan dosen 7 orang. Selanjutnya hampir setiap tahun Pemerintah Indonesia memberangkatkan tenaga pengajar ke Malaysia, dan pada akhir 1969 pemerintah Malaysia mengutarakan kebutuhan mencapat 360 orang, dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut Pemerintah Indonesia mengorganisir proses seleksi dari berbagai daerah dan instansi yang ada. 

Sejarah pendidikan di Indonesia sendiri tidak bisa lepas dari masa penjajahan, perjuangan untuk melepaskan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan menempa tokoh-tokoh pendiri bangsa untuk berfikir keras menemukan cara terbaik memerdekakan Indonesia. Pada masa penjajahan, banyak pemuda yang diijinkan menuntut ilmu di luar negri oleh Belanda, hal itu seperti menjadi senjata makan tuan. Keilmuan yang dimiliki selama belajar dari luar negri menjadikan bekal untuk melakukan diplomasi kepada penjajah.
Dari situ pula melahirkan banyak tokoh-tokoh pemikir pendidikan yang semuanya berkontribusi pada kemajuana Indonesia.



Salah satu tokoh pendidikan indonesia adalah Ki Hajar Dewantara. Pemikirannya terkait mendidik adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Dalam mendidik, ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik pada manusia untuk dimiliki, dilanjutkan, dan disempurnaka.
Ki Hajar punya konsep dalam pendidikan di mana dua hal ini harus dibedakan yakni sistem pengajaran dan pendidikan yang bersinergi satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan), dan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).

Selain itu, pemikiran Ki Hajar tentang metode yang sesuai dengan sistem pendidikan di bangsa ini adalah sistem among, yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Metode ini secara teknik pengajaran meliputi kepala, hati dan panca indera (educate the head, the heart, and the hand).

Salah satu unggkapan yang terkenal dari Ki Hajar Dewantara adalah sebagai berikut; 

Ing Ngarso Sung Tuladha
Ing Madya Mangun Karsa
Tut Wuri Handayani

-Ki Hadjar Dewantara\

Pemikiran besar Ki Hajar Dewantara bersifat fleksibel yang artinya tak lekang oleh waktu penggunaannya, dan sampai kapanpun akan tetap relevan diterapkan dalam pendidikan kita. Karena pendidikan memang harus melibatkan semua aspek kemanusiaan agar berjalan seimbang.

Kita sudah diwarisi sebuah pemikiran hebat tentang landasan pendidikan Indonesia yang tidak ternilai harganya dengan uang.
Maka dimomentum ini, sudah sepantasnya kita harus merenung dan memastikan apakah landasan yang kita pakai sudah bergeser tanpa kita sadari?  Atau kita yang salah dalam membuat landasan baru dalam dunia pendidikan kita ?

Mari kita renungkan.....





Posting Komentar untuk "Hari Pendidikan Nasional Momentum Kebangkitan Indonesia "