INDONESIA PERINGKAT PERTAMA DALAM DUA JENIS BENCANA ALAM: APA DAN BAGAIMANA PERAN PSYCHOLOGICAL FIRST AID ?
Ditulis oleh : Agus Ekoyono
S300210029 Mahasiswa Magister Psikologi,
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Email:mpsi@ums.ac.id
Indonesia rawan bencana?
Sungguh mengejutkan, Indonesia termasuk salah satu negara rawan bencana. Bahkan Indonesia ternyata menduduki peringkat pertama pada dua bencana alam yakni tsunami dan tanah longsor dan peringkat ketiga pada gempa bumi, dan peringkat keenam pada banjir. Tentu saja berita ini tidak menggembirakan malah mengkhawatirkan bagi kita semua. Sebab peringkat tertinggi ini bukan prestasi di bidang olah raga atau sains, melainkan dalam hal seringnya terjadi bencana alam yang memakan korban jiwa dan harta benda serta kerusakan ekologis.Jadi pasti kita tidak bangga karenanya.
Beberapa bencana alam yang pernah terjadi dan apa yang dapat kita pelajari?
Begitu banyak bencana yang telah terjadi di tanah air, baik gunung meletus, banjir, tanah longsor hingga tsunami yang memakan korban harta benda dan nyawa ribuan orang.Berbagai bencana tersebut memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita semua tentang betapa pentingnya pengetahuan dan kesiapan masyarakat untuk menghadapi setiap bencana alam serta kesiapan untuk memberikan pertolongan bagi para korban.
Begitu banyaknya korban jiwa , harta benda dalam musibah tersebut terjadi antara lain karena kurangnya pengetahuan dan ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana, juga terbatasnya SDM untuk memberikan pertolongan bagi yang terdampak. (Manajemen Penanggulangan Bencana, Kementerian PU dan Perumahan Rakyat,2017). Selain memberikan pembelajaran berharga betapa pentingnya pengetahuan dan kesiapan untuk mengantisipasi bencana (tanggap bencana)., ternaya bencana itu juga menyadarkan kepada kita betapa berharganya perencanaan dan pengaturan dalam penanggulangan setiap bencana juga pentingnya bantuan Psikologi bagi para korban, terutama anak-anak dan wanita.
Bantuan psikologis pasca terjadinya bencana alam
Tsunami Aceh dan Nias (di Sumatra Utara) pada tahun 2004 memberikan wawasan pengetahuan baik bagi bangsa Indonesia maupun seluruh penduduk di dunia. Disadari atau tidak oleh kita bahwa bencana tersebut telah mampu mengubah paradigma tentang manajemen kebencanaan dari yang bersifat darurat menjadi paradigma pencegahan dan penguarangan resiko (Departemen PU dan Perumahan Rakyat,Republik Indonesia,2017).
Bencana yang terjadi tersebut dapat mengakibatkan kerugian, baik materil ataupun psikologis masyarakat. Dengan demikian langkah cepat harus diambil untuk dapat mengatasi gangguan psikologis korban bencana alam tersebut. Seperti dikutip pada keranca acuan Pelatihan Teknis Program Dukungan Psikososial tahun 2018, Palang Merah Indonesia (PMI) dalam setiap kegiatannya selalu berusaha meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satunya memberikan pelayanan yang bersifat psikososial kepada masyarakat Indonesia, khususnya pasca terjadi bencana. Trauma psikologis yang dialami oleh para korban , baik anak-anak, remaja yang terpaksa harus menahan sakit, tidak bisa belajar di sekolah dan bermain, orang tua yang kehilangan harapan tentu membawa beban psikologis yang tidak ringan. Apa yang dapat dilakukan untuk membantunya? Selain bantuan yang bersifat materiil berupa pangan, papan, sandang yang layak tentu bantuan psiklogis sangat diperlukan.
Apa dan bagaimana peran Psychological First Aid /PFA?
Terdapat dua pandangan yang agak berlawanan atas pengertian PFA ini, yaitu:
a. Psychological First Aid /PFA atau dikenal juga dengan Dukungan Psikologis Awal /DPA merupakan pendampingan psikologis yang diberikan segera dan secara sistematis oleh siapa saja kepada individu yang sedang mengalami kesulitan ataupun membutuhkan dukungan setelah sebuah peristiwa besar, termasuk bencana.
b. Psychological First Aid (PFA) adalah intervensi tanggap bencana awal dengan tujuan untuk mempromosikan keselamatan, menstabilkan korban bencana dan menghubungkan individu untuk membantu dan sumber daya. PFA diberikan kepada individu yang terkena dampak oleh profesional kesehatan mental dan responden pertama lainnya.
Mengapa penulis sebut berlawaanan ? Definisi pertama (a) memandang bahwa PFA bisa diberikan oleh siapa saja, tidak harus seorang ahli psikologi atau profesional kesehatan mental, sebab dalam pandngannya siapapun dapat memberikan bantuan psikologis pertama saat orang ditimpa bencana. Bisa dalam bentuk menghibur, menguatkan, menemani atau sekedar bela rasa. Sementara pada definisi kedua (b). memandang bahwa PFA harus diberikan oleh profesional kesehatan mental.Pada dasarnya, pertolongan pertama psikologis dilakukan spesifik untuk mengobati luka-luka batin yang membekas pada orang-orang yang baru saja mengalami pengalaman traumatis. Hal ini diterapkan untuk dapat meringankan beban para korban dengan mengurangi dampak-dampak psikologis yang dirasakan seperti rasa stress dan tertekan. PFA dilakukan untuk membantu individu mengembangkan koping fungsional dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang diakibatkan oleh stres yang mereka rasakan (National Child Traumatic Stress Network and National Center for PTSD, 2006).
Sebenarnya kedua definisi tadi dapat dipahami ntuk tidak dipertentangkan jika dilihat dari titik fokus penanganan bantuan psikologis serta berat ringannya trauma psikologis yang dialami korban bencana. Definisi pertama lebih cocok untuk bantuan psikologis yang bersifat ringan, berupa pendampingan, tetapi manakala korban mengalami trauma psikologis yang sangat berat dan mendalam, tentulah bantuan tenaga profesional sangat diharapkan.
Apa tujuan PFA ?
PFA memiliki tujuan yaitu: mengantisipasi, mencegah, dan mengurangi dampak negatif dari suatu masalah/situasi terhadap kondisi psikologis individu. PFA membantu korban bencana menemukan kembali ketangguhannya dan memanfaatkan potensi pribadi maupun lingkungan (fisik dan budaya) untuk memahami reaksi pribadi serta beradaptasi pasca bencana. Intinya membantu para orban bencana untuk kembali menemukan jati diri, harapan dan kehidupan normal, sehat secara psikologis pasca bencana
Terdapat pandangan lain tentang tujuan PFA.Tujuan yang agak berbeda, lebih mendalamyaitu menyatakan bahwa Psychological First Aid (PFA) adalah untuk menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang: aman, tenang & nyaman, keterhubungan ,pemberdayaan diri, dan kembalinya harapan. Psychological First Aid (PFA) mengupayakan terpenuhinya kebutuhan dasar dan mengurangi tekanan psikologis dengan memberikan kehadiran yang menghibur dan penuh perhatian, dan pendidikan tentang reaksi stres yang umum. Tujuan akhirnya adalah memberdayakan individu dengan mendukung kekuatan dan mendorong keterampilan koping yang ada.
Pada awal berdirinya PFA dikembangkan pada 2006 oleh NC-PTSD, badan negara Amerika yang mengurusi kesehatan mental para veteran. Metode ini dikembangkan secara ilmiah dan disebarkan oleh berbagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan mental. Namun perlu diingat bahwa Perlu diingat, PFA bukan trauma healing ataupun psikoterapi, karenanya ia tidak bisa menggantikan kebutuhan penanganan untuk mereka yang sudah mendapat diagnosa trauma dari tenaga profesional.
Kapan PFA diperlukan ?
Sebenarnya kebanyakan orang memerlukan akses terhadap bantuan dan dukungan dalam jangka waktu yang lama setelah berlangsungnya suatu peristiwa bencana. Namun dalam hal ini PFA juga bertujuan untuk membantu mereka yang baru saja terkena dampak dari peristiwa krisis. Kita dapat memberikan PFA saat Anda pertama kali melakukan kontak dengan orang-orang yang sedang mengalami stres, siapapun itu dan dimanapun. Pemberian PFA biasanya dilakukan pada saat kejadian tersebut terjadi atau sesegera mungkin setelah seseorang mengalami suatu peristiwa, tetapi sangat mungkin kita akan melakukannya beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, tergantung pada seberapa lama sebuah peristiwa terjadi serta tbagaiman ingkat keparahan dari peristiwa tersebut.
Bagaimana prinsip dasar dalam memberikan bantuan psikologis pertama?
Siapapun yang berusaha ikut serta memberikan bantuan psikologis pada korban bencana alam diharapkan dapat mengikuti prinsip bantuan sebagai berikut: (a). Prepare: Siapkan diri dengan baik sebelum memberikan bantuan dengan cara : mempelajari tentang peristiwa krisis, pelajari tentang layanan yang tersedia, pelajari tentang masalah keselamatan dan keamanan di sekitar lokasi kejadian. (b). Look: Lihat kemanannya : periksalah keamanannya, periksa orang-orang dengan kebutuhan dasar mendesak yang jelas , periksa orang-orang dengan reaksi kesusahan yang serius. (c). Listen: Dengarkan orang yang menjadi korban bencana : dekati orang yang mungkin membutuhkan dukungan, tanyakan tentang kebutuhan dan kekhawatiran orang-orang, dengarkan orang dan bantu mereka agar merasa tenang. (d). Link :Tautkan dengan kerabat, saudara dll: bantu para korban untuk memenuhi kebutuhan dasar dan mengakses layanan, membantu orang mengatasi masalah, memberi informasi, yang diperlukan , hubungkan orang-orang dengan orang-orang terkasih dan dukungan sosial lainnya.
Apa saja tindakan yang diperlukan dalam PFA ?
Sebenarnya begitu banya yang bisa dperbantukan bagi para terdampak bencana alam, diantaranya: (a).Melakukan kontak dan keterlibatan: untuk memulai kontak dengan cara yang tidak mengganggu, penuh kasih, dan sikap membantu, sikap memberikan dukungan psikologis bagi para korban, (b). Bantulah untuk menumbuhkan rasa aman dan nyaman: untuk meningkatkan keamanan segera dan berkelanjutan, dan memberikan kenyamanan fisik dan emosional, (c). .Stabilisasi : Untuk menenangkan dan mengarahkan korban yang kewalahan secara emosional atau mengalami disorientasi., (d).Pengumpulan Informasi tentang kebutuhan dan kekhawatiran saat ini: Lakukan identifikasi kebutuhan dan kekhawatiran yang mendesak, mengumpulkan informasi tambahan, dan menyesuaikan intervensi pertolongan pertama secara psikologis., ( e).Bantuan Praktis: Untuk menawarkan bantuan praktis kepada para penyintas dalam mengatasi kebutuhan dan kekhawatiran yang mendesak, (f).Lakukan koneksi dengan dukungan sosial: Untuk membantu menjalin kontak singkat atau berkelanjutan dengan orang-orang pendukung utama dan sumber dukungan lainnya, termasuk anggota keluarga, teman, dan sumber daya bantuan komunitas, (g).Informasi tentang koping: Untuk memberikan informasi tentang reaksi stres dan koping untuk mengurangi distres dan meningkatkan fungsi adaptif, (h). Keterkaitan dengan Layanan. Lakaukan kolaborasi, untuk menghubungkan para penyintas dengan layanan yang tersedia yang dibutuhkan pada saat itu atau di masa depan.
Kepedulian kita sebagai bukti cinta sesama
Akhir kata penulis perlu sampaikan bahwa sebagai makhluk yang berKetuhanan dan sebagai mkhluk sosial, kehidupan gotong royong, saling mebantu bagi yang membutuhkan bantuan, seperti para korban bencana adalah adalah sebuah kebutuhan dan keharusan. Kepedulian kita adalah wujud dan bukti cinta sesama makhluk yang dikasihi Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak perlu menunggu sampai kita benar-benar memiliki keahlian sebagai tenaga proesional jika ingin membantu sesama kita. Sekecil apapun peran kita dalam membantu sesama yang terdampak bencana adalah sangat dibutuhkan.Kepeduian kita adalah bagaikan setitik air di padang tandus, setitik sinar di kegelapan.Semoga hati kita tersentuh dan sedia berbuat untuk meringankan beban sesama kita yang membutuhkan bantuan, Semoga !
Sumber Rujukan:
Badan Standardisasi Nasional, 2017.Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana.Standardisasi Nasional,Jakarta, 2017
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 2012. Buku Panduan Fasilitator : Modul Pelatihan Dasar Penanggulangan Bencana. Diterbitkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional. Cetakan Pertama.
Bisson JI & Lewis C. 2009. Systematic Review of Psychological First Aid. Commissioned by the World Health Organization (available upon request).
Brymer, M., Jacobs, et al (2006). (National Child Traumatic Stress Network) Psychological First Aid: Fields Operation Guide (2nd ed.). Retrieved from www.nctsn.org and www.ncptsd.va.gov
National Child Traumatic Stress Network and National Center for PTSD, 2006, WHO,2009).
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Air dan Konstruksi,2017.Modul Manajemen Penanggulangan Bencana Pelatihan Penanggulangan Bencana Banjir,Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, Jakarta,2017.
The National Child Traumatic Stress Network; About PFA Psychology Today, CNN Indonesia
Catatan: Naskah ini sudah melalui proses uji turnitin dengan hasil yang menunjukkan tidak ada masalah dalam penulisan
&&&

Posting Komentar untuk "INDONESIA PERINGKAT PERTAMA DALAM DUA JENIS BENCANA ALAM: APA DAN BAGAIMANA PERAN PSYCHOLOGICAL FIRST AID ?"
Silahkan berikan komentar dan masukan yang membangun agar blog ini menjadi lebih baik.