Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

KLITIH: PERILAKU KEJAHATAN ANTAR REMAJA BERPOTENSI MERUSAK NAMA BESAR YOGYAKARTA


 

Ditulis Oleh Agus Ekoyono

- Mahasiswa Magister Psikologi Univesitas Muhammadiyah Surakarta

Banyak sebutan untuk Kota Yogyakarta yang kita kenal selama ini. Yogya sebagai Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Gudeg, Kota Wisata dll. Kunjungan turis asing dan domestik cukup tinggi, menandakan bahwa Yogyakarta memang Kota tujuan wisata selain Bali. Kondisi ini akhir-akhir ini tercoreng dengan munculnya fenomena Klitih yang mengejutkan banyak pihak.

Klitih merupakan salah satu fenomena kejahatan jalanan yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Umumnya, pelaku klitih adalah pelajar remaja. Sebagi perilaku kejahatan, Klitih adalah perilaku agresivitas yang dilakukan dengan sengaja untuk melukai seseorang. Dalam konteks kenakalan remaja, nglitih atau klitih adalah kegiatan sekelompok pelajar berkeliling menggunakan kendaraan dengan maksud mencari pelajar sekolah lain yang dianggap sebagai musuh, seperti diterangkan dalam penelitian (Ahmad Fuadi, Titik Muti'ah, dan Hartosujono.)

Klitih mengalami perubahan makna  

Klitih awalnya hanya diartikan sebagai kegiatan jalan-jalan atau keliling kota biasa tanpa tujuan yang jelas. (Dr. Aroma Elmina Martha, dalam Trisna Wulandari,2021), menuturkan, klitih dulu sebenarnya punya makna yang netral. klitah-klitih yang artinya keluyuran, punya waktu luang yang banyak, rileks. Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan paradigma terhadap pengertian klitih. Yang tadinya bermakna positif, bergeser menjadi negatif

Dr.Aroma mengatakan, klitih dalam konteks 'punya waktu luang banyak' lantas disalahgunakan sebagian orang. Misalnya untuk merusak atau melukai orang lain yang jelas berdampak buruk. 

Remaja sebagai pelaku utama Klitih

Mayoritas pelaku Klitih adalah berusia remaja yang mengenyam pendidikan formal, dan korbanya kebanyakan acak. Jadi mereka memiliki keterikatan grup di sekolah, semacam kelompok atau geng remaja.Salah satu yang disyaratkan untuk masuk geng itu sebenarnya bukan bertujuan untuk membuat orang lain kehilangan nyawa, tapi hanya untuk sekedar menyerang atau merusak.

Memahami Klitih Dari Teori Psikologi  Agresi 

Muhammad Nur Riza (dalam Yohanes Enggar H,2022) menyebutkan bahwa salah satu penyebab Klitih Yogyakarta adalah: perubahan dan tekanan akibat pandemi. Nur Rizal menjelaskan bahwa banyak anak remaja harus menghadapi perubahan dinamika di dalam keluarga, sekolah, relasi pertemanan, serta lingkungan. Dalam situasi yang demikian kompleks, anak sulit untuk memenuhi kebutuhannya akan ruang ekspresi diri/ aktualisasi diri.

Sementara itu Dr.Aroma menjelaskan bahwa ada empat penyebab terjadinya klitih, yaitu (1) keterikatan terhadap kegiatan sekolah dan rumah tergolong rendah  (attachment), (2) komitmen untuk menjalani waktu secara positip berkurang  (commitment), (3) keterlibatan keagamaan yang kurang (involvement), dan (4) kurangnya nilai kepercayaan atau keagamaan (belief). Dr.Aroma menjelaskan bawa  faktor keterikatan dengan sekolah dan keluarga yang rendah membuat kegiatan di waktu luang tersangka seperti tidak terpantau. Keadaan ini mendorong komitmen untuk menyadari bahwa menjalani waktu-waktu yang sebenarnya digunakan secara positif malah mendapat stigma.

Di sisi lain dalam kajia Psikologi, perilaku agresi sebagai salah satu bentuk perilaku manusia dipengaruhi oleh kondisi internal individu, terutama: (1) prasangka sosial, (2) Orientasi nilai. Dalam hal prasangka sosil, Sears, dkk (1988) berpendapat bahwa prasangka sosial antar ras/golongan  dapat menyebabkan terjadinya  berbagai macam akibat diantaranya serangan secara fisik. Sementara itu  dalam kaitannya dengan orientasi nilai manusia menurut Maslow (dalam Goble,1971) menyatakan bahwa tiadanya nilai-nilai dalam individu akan berakibat pada munculnya berbagai bentuk kejahatan (perilaku agresi). Platow dan Shave (1994) juga menambahkan bahwa adanya orientasi nilai sosial yang individualistik berupa sikap-sikap yang egoistik dalam kehidupan masyarakat  ikut serta mempengaruhi  terjadinya agresivitas. 

Bagaimana mengatasi Klitih ?

 Sears; Peplau; Freedman; & Taylor (1988) mengemukakan beberapa cara untuk mengurangi prasangka sosial yang berdampak pada perilaku agresi,termasuk Klitih, di antaranya adalah: (1). melalui sosialisasi (2). pendidikan tinggi, dan  (3). kontak langsung antar kelompok . Sosialisasi terhadap para remaja perlu dilakukan secara kontinyu baik melalui media sosial, komunitas keagamaan maupun sekolah dll. Tujuannya adalah sebagai upaya preventif untuk mencegah keterlibatan remaja dalam klitih. Kontak langsung dengan kelompok sangat dianjurkan sebab dengan sering terjadi kontak dalam bentuk kerjasama, pembelajaran dll maka semangat persaudaraan/persahabatan dapat ditimbulkan. Sementara pendidikan tinggi ditengarai dapat mengurangi prasangka sosial dan perilaku agresi namun memerlukan waktu yang panjang.Selain upaya tersebut, sangat dipandang perlu adanya upaya kuratif dalam bentuk pemidanaan untuk menimbulkan efek jera para pelaku klitih.

Jika fenomea klitih ini terus berlanjut dan tidak segera teratasi bukan tidak mungkin nama besar Yogyakarta sebagai kota Budaya, Kota Pelajar dan Kota Wisata akan meredup. Kesan sebagai Kota yang tidak aman untuk dikunjungi sebagai obyek wisaya harus segera diatasi. Sudah barang tentu hal ini melibatkan semua pihak, bukan saja pihak Kepolisian tetapi juga sekolah dan terutama keluarga (orang tua) dan warga masyarakat pada umumnya. Tidak boleh tinggal diam manakala muncul tanda-tanda Klitih akan terjadi atau sedang terjadi. Pembekalan keagamaan, keimanan dari para pemuka agama sangat diharapkan   agar remaja memiliki dasar keimanan yang kuat sehigga tidak mudah terjerumus pada hal-hal negatif.

 

 

 

 

Bahan Pengayaan:

Ahmad Fuadi, Titik Muti’ah & Hartosujono,2019. Faktor-faktor Determinasi Perilaku Klitih.

 Jurnal Spirits, Volume 09 No.2 Mei 2019

Platow,M.J., & Shave,R.,1994. Social Value Orientations and the Expresion of Achievement Motivation, Journal of Social Psychology, 135, 71-81

Sears,D.O.;Peplau,L.A.;Freedman,J.L&Taylor,S.E.,1988. Social Psychology, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.

Trisna Wulandari,2021. Apa itu Klitih dan Penyebabnya? Awalya Punya Makna

         Netral. DetikEdu,29 Des 2021

Yohanes Enggar H,2022. Fenomena Klitih, Pengamat Pendidikan: Anak Muda Tidak Punya

         Ruang Berekspresi. Kompas.com,18/04/2022

 

Posting Komentar untuk "KLITIH: PERILAKU KEJAHATAN ANTAR REMAJA BERPOTENSI MERUSAK NAMA BESAR YOGYAKARTA"