Tes Kepribadian Mengungkap Sisi Original Diri
Berbicara
mengenai tes kepribadian, tentu bukan hal baru lagi bagi kita semua khususnya
kalangan psikologi. Penggunaan tes kepribadian diberbagai kegiatan seperti
seleksi pekerjaan, penjurusan, diagnostik permasalahan psikologis, membuat
masyarakat semakin familiar dengan tes kepribadian tersebut. Perlu diingat
bahwa tes kepribadian ini merupakan salah satu bagian dari tes psikologi atau
psikotes, dimana psikotes sendiri dapat dibagi menjadi tes kepribadian, tes performance,
dan lainnya. Pada artikel kali ini kita akan fokus membahas mengenai tes
kepribadian. Bahasan mengenai tes performance dan lainnya akan kita bahas pada
artikel lainnya.
Pengertian Tes
Kepribadian
Tes Kepribadian Mengungkap Sisi Original Diri Tes kepribadian dapat
dikatakan bersifat deskriptif kualitatif, bukan deskriptif kuantitatif (angka),
karena pada dasarnya kepribadian tidak dapat diukur dengan satuan angka, tetapi
hanya dapat dideskripsikan untuk mendapatkan kecenderungan perilaku yang paling
mendekati. Guna mempermudah dalam menjelaskan kepribadian, alat tes yang
digunakan menggunakan kalkulasi skor dan kemudian hasilnya diinterpretasikan /
dideskripsikan kedalam hasil deskripti kualitatif.
Aspek Pokok Kebribadian
Tes kepribadian
memiliki cakupan yang sangat luas, untuk itu sering dibatasi sebagai tes yang mengukur
dan mengungkap aspek-aspek non kognitif, yang berarti bukan mengukur abilitas
seseorang. Banyaknya aspek pada tes kepribadian, membuat para praktisi fokus
untuk mengungkap aspek-aspek pokok, seperti; emosi, motivasi, hubungan sosial. Setiap
aspek pokok tersebut memiliki turunan aspek yang dapat dijabarkan lebih detail
sesuai kebutuhan tujuan pemeriksaan kepribadian. Setiap aspek pokok dalam kepribadian
dapat diperdalam untuk mengungkap apa yang ingin diketahui. Sebagai contoh
aspek motivasi, dapat diperdalam untuk
mengungkap seperti apa motivasinya. Pada aspek emosi, dapat pula diperdalam
untuk mendapatkan gambaran emosi yang lebih lengkap. Sementara untuk aspek
hubungan sosial, memberikan gambaran tentang yang lebih lengkap tentang
bagaimana berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai seting situasi.
Jenis Tes Kepribadian
Tes kepribadian
sendiri memiliki banyak variasi yang lazim digunakan, seperti; teknik self report
atau disebut juga inventori dan teknik proyektif.
Tes kepribadian dengan model Self-report
inventori bersifat “melaporkan keadaan diri sendiri”mengenai keadaan orang
yang dikenakan tes kepribadian. Penggunaan teknik ini berasumsi bahwa setiap
individu merupakan orang yang paling mengerti atas keadaan dirinya, memiliki
kesadaran dan kemampuan untuk menyatakan keadaann yang sebenarnya. Penggunaan
tes model ini biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan atau dengan format
jawaban pilihan ganda. Subjek pun biasanya akan diminta untuk memberikan respon
/ tanggapan sesuai kondisi dirinya secara jujur, karena tidak ada jawaban benar
atau salah dalam tes tersebut. Contoh lembar jawaban pada tes kepribadian model self report ini adalah pilihan ganda dengan variasi yang beragam.
Tes kepribadian dengan model proyektif
atau disebut juga tes grafis. Pada penggunaan tes ini biasanya akan
memerintahkan subjek untuk mengikuti suatu instruksi sampai akhir yang makna
dan tujuannya tidak diketahui oleh subjek. Subjek akan diberikan suatu lembar
kerja berupa kertas kosong, dan selanjutnya diberikan instruksi oleh tester.
(Lembar kertas kosong untuk mengerjakan instruksi tes proyektif)
Penerapan Tes
Kepribadiaan di Indonesia
Tes Kepribadian sudah
menjadi hal yang erat dengan berbagai kegiatan industry, ekonomi, pendidikan,
maupun kegiatan sosial masyarakat lainnya. Menjadi pertanyaan yang penting
untuk kita ulas, mengapa tes kepribadian seringkali dipakai dalam rangkaian
kegiatan penting? Seperti pada saat pemilu, seleksi kerja, kenaikan jabatan,
dan masih banyak lainnya kegiatan yang memakai tes kepribadian.
Pada dasarnya
tes kepribadian tidak bisa mengungkap 100% akurat, namun hanya memprediksi
kecenderungan kepribadian dari orang yang dikenakan tes kepribadian. Berdasarkan hasil tes kepribadian itu, menjadi
salah satu acuan untuk mengambil keputusan dari kandidat yang ada. Sebagai contoh berikut; ketika menjelalng
pemilihan walikota, kandidat pendaftar
diwajibkan mengikuti tes kepribadian, tentunya tes kepribadian tersebut untuk
mengetahui apakah kandidat walikota tersebut memiliki gangguan kepribadian atau
tidak, bagaimana kestabilan emosinya, bagaimana interaksi sosialnya, bagaimana
motivasinya. Tentunya sangat berbahaya bukan kalau ada kandidat yang memiliki
emosi yang labil, motivasi kerja rendah, dan hubungan sosialnya kurang,
terpilih menjadi kandidat bahkan terpilih menjadi pejabat publik? Bagaimana bisa
mengambil keputusan dengan baik kalau mudah emosi, bagaimana merangkul semua
kalangan kalau hubungan sosialnya saja kurang. Nah dari situ sudah dapat
gambaran bukan kenapa tes kepribadian menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dalam situasi tertentu, khususnya seleksi kandidat untuk menempati posisi
kunci.
Baca Juga Daftar Akreditasi Fakultas Psikologi di Indonesia
Baca Juga Psikologi Industri dan Organisasi; Sudut pandang dan ranah analisisnya
Baca Juga Daftar Akreditasi Fakultas Psikologi di Indonesia
Baca Juga Psikologi Industri dan Organisasi; Sudut pandang dan ranah analisisnya
Kesehatan fisik memang menjadi hal penting dalam setiap proses seleksi, tapi kesehatan psikis atau kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya, keduanya harus selaras dan saling melengkapi sehingga bisa berdaya maksimal semua potensi yang dimiliki.
Selain itu,
penggunaan tes kepribadian juga dilakukan untuk ranah psikologi klinis.
Penggunaan pada ranah klinis digunakan untuk mendiagnosis hambatan psikologis yang
ada, sehingga membantu psikolog untuk memberikan terapi yang sesuai.
Bijak Menyikapi Tes Kepribadian
Dewasa ini
kajian tentang kepribadian semakin maju, hal tersebut berpengaruh pula dalam
penerapan praktek tes kepribadian. Mungkin sudah ada beberapa alat tes yang
sudah tersebar, tapi pengembangan alat tes pun terus dilakukan untuk
menyesuaikan dengan kebutuhan jaman.
Psikotes masih
menjadi momok menakutkan oleh sebagian masyarakat kita, hal ini terlihat dari
banyaknya yang mencoba membeli buku psikotes, mempelajari tentang psikotes agar
bisa menjawab dengan baik. Namun perlu diketahui bahwa setiap rangkaian tes
kepribadian selalu memiliki korelasi antara satu tes dengan tes yang lain dan
hasilnya pun selalu berkorelasi, bila melakukan kecurangan pada satu tes, maka
akan terbaca pada tes yang lain. Jadi kita sendiri yang rugi bila mencari jalan
pintas seperti itu. Sebagai ilustrasi sebagai berikut;
Ilustrasi gambar
diatas menjelaskan bahwa satu aspek psikologis diukur oleh berbagai alat tes. Sehingga
dengan mengetahui pola gambar diatas, melakukan trik untuk melakukan kecurangan
dalam satu rangkaian tes psikologi menjadi hal yang berpotensi merugikan diri
sendiri. Karena sekalipun berhasil mempelajari satu tes tertentu, namun ada tes
lain yang akan digunakan untuk pembanding sekaligus mengungkapkan aspek yang
diukur. Sehingga cara terbaik untuk menyikapi psikotes adalah dengan menjadi
diri sendiri. Pembahasan lebih detail mengenai persiapan mengikuti psikotes
akan dibahas pada artikel lainnya.
Semoga artikel sederhana tentang Tes
Kepribadian mengungkap sisi original diri kita bisa bermanfaat untuk teman
semua diamanapun berada.



Posting Komentar untuk "Tes Kepribadian Mengungkap Sisi Original Diri"
Silahkan berikan komentar dan masukan yang membangun agar blog ini menjadi lebih baik.